My Family

Kesederhanaan keluarga membentuk saya menjadi pribadi yang mandiri, berfikir dan penuh pertimbangan dalam menentukan sesuatu.

Graduation Moment

Ada banyak hal yang berkesan dalam hidup ini, diantaranya ketika kita berhasil melewati proses-demi proses pendewasaan.

Kegembiraan

Selalui ada hal yang mengejutkan yang membuat kamu selalu bersemangat melewati berbagai tantangan didepan, feel free and get realax.

Masa Depan

5 Point masa depan yang saya tulis adalah hal yang realistis yang saya yakin saya mampu melakukannya.

Work hard Pray Hard

Sealalu bersyukur dengan apa yang telah saya terima atas kegagalan dan keberhasilan, dan senantiasa terus berharap untuk menjadi yang lebih baik lagi kedepannya.

Showing posts with label JADUL. Show all posts
Showing posts with label JADUL. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

5 PERMAINAN TRADISIONAL YANG BIKIN KANGET MASA KECIL TAHUN 90an

Perkembangan teknologi sekarang ini memunculkan banyak alternatif hiburan bagi semua kalangan. Khususnya anak-anak sekarang ini banyak sekali pilihan permainan yang bisa mereka dapatkan. Dengan kemajuan teknologi, jenis permainannya lebih ke "virtual reality" seperti Video game, Internet dan hiburan digital lainnya. Beda dengan jaman dulu yang serba terbatas dalam hal akses dan fasilitas, kalaupun ada harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Semisal tahun 1990, dulu gak mural loh beli mainan sekelas PS atau nintendo dan akhirnya alternatif permainan tradisional masih jadi yang paling diminati anak-anak tahun 90an.

Sebelum membahas permainan apa saja yang bikin kangen tersebut, berikut saya ingin menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari permainan tradisional.

Kelebihan Permainan Tradisional
1. Mudah dimainkan, permainannya simple, tidak banyak aturan-aturan yang rumit dan tidak ada peralatan khusus untuk memainkannya
2. Siapa saja boleh main, baik anak-anak ataupun dewasa boleh memainkannya
3. Melatih fisik dan mental, permainan tradisional memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan olah raga, mengandalkan ketahanan fisik dan membutuhkan strategi untuk menang.
4. Melatih kerjasama antar teman, permainan tradisional umumnya dimainkan secara berkelopok dimana untuk memenangkan permainan butuh kerjasama setiap anggotanya.
5. Solidaritas dan sportifitas, dalam permainan tradisional dilatih untuk saling menghargai, saling dukung, menghormati pemenang dan menerima kekalahan. 

Kekurangan Permainan Tradisional
1. Butuh tempat yang luas, semisal lapangan, halaman rumah yang luas.
2. Butuh pemain yang banyak, minimal dibutuhkan 3 atau lebih pemain agar dapat memainkannya
3. Melelahkan, karena permainan ini rata-rata lebih mengandalkan kemampuan fisik, berlari, menangkap, mencari, dll
4. Rawan bahaya, kesederhanaan permainan ini kadang mengabaikan faktor keselamatan, semisal tidak pakai alas kaki, melemparkan benda tertentu yang beresiko terkena anggota tubuh, berlari dan bersembunyi di tempat yang tidak semestinya.
5. Kotor, biasanya permainan tradisional dilakukan di tanah tanpa alas kaki, menggunakan alat yang kotor dan mengabaikan faktor-faktor kebersihan.

Tapi yang pasti adalah masa kanak-kanak saya dulu seru sekali sampai kadang lupa waktu ketika bermain.

Berikut ini 5 permainan tradisional yang paling membuat kangen masa kecil kita dulu khususnya tahun 80an dan 90an di daerah Banten dan Jawabarat (Sunda). Saya sudah me- ranking urutan permainan berdasarkan tingkat kerumitan dan intensitas keseringan permainan itu dimainkan.

1. Haharoan, Uucingan (Tangkap-Lari)
Haharoan adalah permainan yang paling sering dimainkan baik di kampung ataupun di saekolah. Permainan ini ringan karena bisa dimainkan oleh anak usia mulai dari 5 tahun. Efektifnya permainan ini dimainkan oleh lebih dari 3 orang. Selain itu durasi permaianan cukup pendek karena biasanya dilakukan pada jam istirahat atau menunggu masuk kelas/mengaji.
Dimulai dari melakukan “gambreng” dan “suit” untuk menentukan siapa yang lari dan siapa yang menjadi pengejar “ucing”. Seorang yang jadi “jaga” / ucing harus berusaha menangkap teman-temannya. Setelah tertangkap maka giliran yang akan menjadi “jaga” / Ucing adalah orang yang ditangkap tersebut. Permainan ini membutuhkan tempat yang cukup luas seperti halaman rumah atau lapangan agar bebas berlari ke segala arah.



Tehnik yang digunakan
-          Tidak ada tehnik yang khusus ketika bermain, cukup berkonsentrasi pada target yang akan ditangkap
-          Untuk memperseru permaianan setiap orang yang dikejar oleh ucing akan berkata “meng, meng, minta tulang meng” dengan maksud minta dikejar.

Ragam permaianan Haharoan
-          Haroan Dongko (jongkok) : Ucing akan berhenti mengejar lawan ketika lawan tiba-tiba jongkok, dan mencari lawan lain yang tidak jongkok. Jika disatu saat lawan dalam keadaan jongkok semua maka yang paling jongkok terakhir akan menjadi “jaga” / ucing secara otomatis
-          Haroan Dua (Berpasangan) : cara bermain sama namun setiap pemain berpasangan dengan memegang sejenis tongkat pendek atau tali yang harus tetap mereka pegang selama permaianan berlangsung (tetap terhubung), jika salah satunya melepaskan pegangan itu (terpisah) maka akan “paeh” (gugur) dan dipastikan akan menjadi “jaga” / ucing. Haroan dua memiliki durasi waktu panjang dan jarak lari yang luas sampai kepelosok kampung.

2. Jajambalan
Jajambalan adalah kombinasi antara startegi bersembunyi dan mempertahankan area kekuasaan. Permainan ini membutuhkan sebuah “tiang” sebagai tempat yang harus di jaga. Jika ia ingin terbebas dari tugasnya menjaga “tiang” itu maka dia harus menjalankan kewajibannya menyelamatkan tiang itu dari sentuhan tangan lawan sambil menggugurkan lawan satu persatu dengan mencari dan melihatnya dari tempat persembunyiannya.



Pertama, sekelompok (3 atau lebih) anak menentukan “tiang” yang akan menjadi tempat sentuh, lalu melakukan “gambreng” dan “suit” untuk menentukan siapa yang akan menjadi “jaga”.
Seorang yang menjadi “jaga” akan menghitung 1 sampai 10 sebanyak 5 sampai 10 kali (jumlah 50 – 100), “ji, wa, lu, pat, ma, nep, juh, pan, lan ,luh” sembari menutup matanya di “tiang” tersebut, selama itu pula lawan akan bersembunyi pada jarak yang tidak terlalu jauh dari “tiang” (radius 10-30 meter).
Setelah itu “jaga” harus berusaha mempertahankan “tiang” dari sentuhan lawan yang sedang bersembunyi tersebut. Juga harus mencari setiap orang yang bersembunyi dan melihatnya sambil menyebut namanya lalu kembali lagi menyentuh “tiang” sambil berkata “Jambal..!” sebagai bukti lawan sudah tidak memiliki hak bersembunyi “paeh”. Jika ditengah permainan ada lawan yang menyentuh “tiang” sembari berseru “jambal”, maka artinya “jaga” tidak bisa mempertahankan “tiang” dari sentuhan lawan, lawan yang tadinya sudah tertangkap oleh “jaga” pun memilki hak untuk bersembunyi kembali.
Sampai akhirnya pada kondisi dimana lawan sudah tertangkap semua maka orang yang pertama tertangkap harus menjadi “jaga” terhadap tiang tersebut (giliran).

Aturan dan kondisi-kondisi yang biasa terjadi
-          “jaga” harus berwaspada ketika sedang mencari persembunyian lawan, karena bisa saja lawan muncul dari belakang dan “tiang” disentuh oleh lawan. Jika keadaan ini terus menerus terjadi dengan orang  “jaga” yang sama maka keadaan ini disebut “di-kere”, lelucon ini di berikan untuk “jaga” yang terlalu lemah dalam menjaga “tiang” tersebut. “kere, keredok, dikere sampe medok” adalah nyanyian lawan pada “jaga” jika keadaan demikian terjadi.
-          Jika suatu keadaan dimana ketika “jaga” salah menyebutkan nama lawan dalam persembunyian, maka lawan memiliki hak untuk bersembunyi kembali dengan berseru “aseum” yang maksudnya “salah orang”
-          Tidak ada strategi terencana yang dibuat lawan untuk membuat “jaga” tak berdaya karena setiap lawan adalah individu yang bebas menentukan tempat persembunyian secara sendiri, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain sampai memutuskan untuk menyentuh atau tidak “tiang” yang dijaga sembari berseru “jambal ... !” tersebut.


3. Kakancasan
Susunan potongan genteng/keramik yang dibentuk bulat sejumlah 10-12 keping harus dijaga oleh seorang yang menjadi “jaga” agar tidak di robohkan oleh lawan. Seperti hal nya Jajambalan, kakancasan adalah permainan strategi antara bersembunyi dan menjaga benda kesayangan dari tangan jahil yang merusak.




Ketentuan permainan hampir sama dengan jajambalan namun yang membedakan adalah
-          menghitung 1- 10 digantikan dengan menyusun kepingan genteng yang sebelumnya dihancurkan memakai sebongkah bata yang dilempar dari jarak tertentu oleh salah satu pemain
-          Seruan “kancas” harus di lakukan ketika “jaga” menangkap/melihat lawan dari kejauhan dengan menyebutkan nama lawan tersebut sambil menginjak sebongkah batu bata sebagai kedudukannya
-          Bila dalam jajambalan yang dijaga adalah sebuah tiang, maka dalam kakancasan adalah susunan keping genteng atau keramik dan sejenisnya yang dibentuk bulat kecil  lalu disusun piramidal ke atas sebanyak 10 – 12 keping lalu dijaga agar tidak di robohkan lawan.

Tehnik yang digunakan hampir sama dengan Jajambalan.

4. Susumputan / Sasamunian (Petak Umpet)
Sekelompok orang yang menjadi "jaga" akan mencari kelompok lawan yang bersembunyi di tempat yang sesulit mungkin untuk diketahui, tapi jangkauannya masih area satu kampung saja. 



Ketentuan Permainan
Pertama membagi kelompok kedalam 2 tim dan memilih ketua yang selanjutnya disebut "Indung"
dan anggota disebut "anak buah" cara memilih nya bisa dengan "gambreng" dan "suit"
Setelah kedua tim terbentuk Ketua masing-masing tim “indung” sebagai perwakilan anggota melakukan “suit” untuk menentukan tim mana yang terlebih dahulu akan bersembunyi. Yang menang akan dipersilahkan bersembunyi dimana saja serahasia mungkin tapi dalam radius sampai perbatasan kampung saja, sedangkanan Tim yang “jaga” menunggu isyarat selanjutnya dari tim yang sedang bersembunyi. Jika sudah menemukan tempat persembunyian “Indung” sebagai ketua kelompok meneriakan “Siaaaaapp” di kejauhan sehingga kelompok yang “jaga” mulai berusaha untuk mencari. Jika ketemu dan salah satu anggota kelompok yang bersembunyi ditangkap oleh “jaga” maka giliran bersembunyi menjadi hak kelompok yang menangkap.

Aturan dan Kondisi-kondisi yang biasa terjadi
-          Kelompok yang “Jaga” mencari dengan cara berpencar (Tidak bergerombol) hal tersebut agar memudahkan pencarian kesegala arah
-          Kelompok yang bersembunyi bisa bersembunyi diatas pohon, didalam kebun bahkan di kandang ayam sekalipun
-          Ketua kelompok “Indung” bisa melakukan startegi mengecoh lawan dengan berpindah-pindah tempat dan berteriak seolah semua anggotanya sudah berpindah tempat persembunyian

Hal yang tidak boleh dilakukan dalam permainan ini adalah bersembunyi di dalam rumah. Jika dilakukan maka anggota “jaga” akan meneriakan “keok” yang artinya pecundang.
Permainan ini lazimnya dilakukan malam hari dalam cuaca cerah.

5. Bebentengan
Dua kelompok saling mempertahankan benteng kerajaannya masing-masih, strategi menyerang dan mengumpulkan tawanan akan memudahkan kelompok untuk mengalahkan benteng lawannya. Kelompok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang menuju benteng asalnya.



Ketentuan permainan
Kelompok dibagi menjadi 2 tim, setiap tim mempersiapkan sebongkah batu bata yang akan dijadikan benteng. Selanjutnya mengatur jarak benteng antara 10-15 meter dari benteng lawan, biasanya jarak benteng satu ke benteng lain disesuaikan dengan panjang lapangan atau area yang dijadikan tempat bermain.
Setiap tim menentukan ketua “indung” untuk melakukan “suit” dimana yang menang adalah yang akan menyerang duluan.
Setiap anggota Tim harus melakukan “injak benteng” (bongkahan batu bata) miliknya sebelum menyerang benteng lawan. Untuk memulai menyerang/memancing lawan untuk menyerang balik.

Mekanisme mendapatkan tawanan adalah sebagai berikut :
Setiap anggota tim masing-masing bebas menyerang benteng lawan namun harus sadar bahwa dia akan dikejar lawannya untuk kemudian dikejar kembali oleh teman satu tim lainnya (pancingan), jika tertangkap melalui mekanisme ini maka anggota tim tersebut menjadi tawanan. Tawanan bisa dibebaskan dengan cara di jemput oleh teman satu tim nya, menyentuh tangan temannya sambil berkata “bebas” tetapi tetap waspada menghindar dari kejaran lawannya. Semakin banyak tawanan yang dimiliki maka semakin mudah menguasai benteng lawan. Permainan akan dimenangkan oleh salah satu tim jika anggota tim menguasai benteng lawan dengan cara menginjak benteng tim lawan tersebut.

Aturan dan Kondisi-kondisi yang biasa terjadi,
-          Kerjasama antar anggota tim sangat dibutuhkan, biasanya seorang ketua memilih anggota tim yang memiliki kemampuan lari dan menghindar yang jago sebelum dilakukan permainan ini. Namun untuk menyeimbangkan permainan biasanya komposisi tim terdiri dari anak-anak yang jago dan anak-anak yang biasa saja sehingga laju permainan menjadi seru dan mengasyikan.
-          Setiap anggota yang maju duluan akan dikejar oleh lawan untuk selanjutnya anggota tersebut kembali menginjak benteng miliknya agar bisa merubah peran sebagai pengejar, begitu seterusnya.
-          Tehnik memancing lawan agar keluar dari bentengnya butuh strategi khusus, seperti menjebak lawan lalu mengejarnya sampai dapat, untuk kemudian menjadi tawanan.

Penjelasan “gambreng”
Gambreng adalah alat/cara yang dilakukan oleh para pemain sebelum permaian dimulai untuk menentukan siapa yang akan menjadi “jaga”. Caranya dengan menggoyang (mengibaskan) salah satu tangan sambil mengatakan "hompimpa alaihum gambreng" atau didaerah saya Banten cukup mengatakan "yang sedikit menang" sambil menunjukan belahan tangan atas atau bawah di ujung kata tersebut. Jika sebagian kecil orang menunjukan belahan tangan yang beda maka akan tersisih menjadi pemenang, sedangkan orang yang paling terakhir melakukan "gambreng" ini maka dipastikan akan menjadi "jaga" nanti.



Penjelasan “suit”
Suit adalah alat/cara menentukan “jaga” tingkat akhir setelah gambreng. Jika hasil gambreng menyisihkan 2 pemain lagi, maka suit dilakukan pada kedua orang tersebut. Cara suit adalah dengan menyembunyikan tangan terlebih dahulu lalu menyebut kata “suit” sambil menunjukan bagian jari-jari tangan tertentu secara acak. Ada tiga jari yang bisa diikutkan dalam suit, yaitu Jempol, Telunjuk dan Kelingking. Jempol lebih unggul dari telujuk tapi kalah oleh kelingking, Telunjuk lebih unggul dari kelingking tapi kalah oleh jempol, dan kelingking lebih unggul dari jempol tapi kalah oleh telunjuk, begitu peraturannya.


Suit di beberapa daerah memiliki mekanisme berbeda. Ada yang menggunakan mekanisme batu, gunting, kertas dengan ketentuan: kepalan tangan sebagai batu, tangan yang melebar sebagai kertas dan jari membentuk capit sebagai gunting. Batu lebih unggul dari gunting tapi kalah oleh kertas, kertas lebih unggul dari batu tapi kalah oleh gunting dan gunting lebih unggul dari kertas tapi kalah oleh batu.

Sebenarnya masih banyak lagi permainan tradisional jaman dulu yang membuat kita kangen masa anak-anak dulu. Tapi 5 permainan tadi yang paling sering dimainkan dan memiliki nilai positif seperti, melatih fisik dan mental, solidaritas dan kerjasama, strategi dan kepemimpinan. Ada juga permainan jaman dulu yang lebih ringan dan lebih kepada mengasah keterampilan dan otak yang mungkin akan saya bahas di bagian ke 2 artikel ini.

Sumber Gambar : dari berbagai sumber

Thursday, October 25, 2012

MASA KECILKU JAMAN ORBA

 
“keadaanlah yang membentuk sudut pandang manusia, namun manusialah yang membuat keadaan, maka bentuklah keadaan dirimu sebaik mungkin agar sudutpandangmu berada di arah yang baik”
-jali gojali-

Flashback 20 tahun yang lalu dimana saat itu usiaku masih 8 tahun, sekitar kelas 3 SD. Aku bersekolah di SDN Labuan 6 Kecamatan Labuan Pandeglang Banten sekarang sih sudah berubah nama menjadi SDN Kalanganyar 3 tapi lokasinya masih disitu yang berbeda cuma gedungnya yang sudah mengalami perehaban sehingga sudah tak seperti dulu lagi.

Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga sederhana yang cukup dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Ibu dan Bapak yang wiraswasta memilki waktu dirumah yang banyak sehingga banyak pelajaran yang aku contoh dan dapatkan dari kedua orang tuaku itu. Kerja keras dan kegigihan mereka sangat terasa yang kadang membuat diriku merasa ingin sekali suatu saat nanti bisa membuat kedua orang tuaku itu pensiun dari pekerjaanya dengan penghasilanku kelak. Aku bukan anak pandai, suka bermain dan membandel sekali pada perintah orang tua. Apalagi kalau sudah disuruh berangkat ke pengajian, malesnya bukan main. Aku lebih tertarik nonton tv atau bermain di luar bersama teman-teman. Sedari kecil aku seperti sudah memiliki prinsip bahwa aku ini individu yang gak bisa diatur atau di suruh karena sebenarnya aku juga akan melakukannya, tapi tidak pada waktu dimana menurutku tidak tepat dilakukan pada saat-saat tertentu. Aturan semi otoriter yang kerap dilakukan orang tua pada ku membuat berontak dan kadang suka membalikan pembicaraan. Tapi semu aitu masih dalam kesadaran bahwa semua sikap orang tuaku intinya untuk kebaikan juga.

Selebihnya masa kecil dulu itu indah sekali, tidak ada keluhan orang tua yang berhubungan dengan masalah finansial atau mungkin karena aku masih kecil jadi kebutuhannya belum banyak. Engga juga kok, lebih tepatnya didikan orang tua yang memberikan contoh kesederhanaan membuat kami harus selalu bersyukur atas apa yang kami terima. Sedikit ya disyukuri banyak alhamdulillah. Namun Ibu bercerita bahwa iklim usaha dulu lebih baik dari sekarang ini. Jarang ada orang yang hutangnya menumpuk, kreditan gak kebayar atau konflik dengan rentenir. Iklim perekonomian Orde Baru yang tumbuh sekitar 35% pertahunnya cukup menjadi bukti bahwa Indonesia di jaman orde baru mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sektor Pariwisata sebagai penggerak perekonomian Kota Labuan pada saat itu memiliki andil besar pada kesejahteraan penduduknya. Dulu pantai Carita itu seperti Bali ke 2 bagi turis asing yang datang dari berbagai negara. Tingkat pembangunan hotel-hotel bertaraf internasional cukup meningkat, begitujuga dengan tingkat sewanya.

Keamanan yang kondusif dan stabilitas perekonomian yang terjadi nampaknya berpengaruh besar terhadap kesejahteraan penduduk pada saat itu. Mau usaha apa saja asal memiliki kemauan nampaknya akan lumayan sukses, mau jualan apa saja akan laku. Tidak ada premanisme, birokrasi yang rumit, atau pejabat yang menyalah gunakan wewenangnya. Semuanya diatur dengan mekanisme terpusat. Pusatlah yang memilki kendali, sedangkan kepala daerah hanya bertugas mengelola sesuai instruksinya. Tidak ada demonstrasi penuntutan hak, atau penggugatan ketidak adilan. Yang ada hanyalah tunduk dan patuh pada aturan dan perintah atasan. Kondisi ini membuat indonesia berada pada kestabilan keamanan yang sangat baik.

Disamping itu pembangunan berbagai infrastruktur terus berjalan, membuka banyak sekali lapangan pekerjaan dan kemudian menekan angka pengangguran. Teringat ketika kakak perempuan ku bekerja di sebuah pabrik sepatu di daerah tangerang pada saat itu, pernah diajak berkeliling melihat megahnya kota jakarta dan setidaknya hal tersebut membuatku cukup berkesan. Melihat ribuan karyawan pabrik tersebut masuk kerja secara bersamaan, memilki penghidupan yang layak, sungguh senang sekali. Nampaknya Orde Baru berhasil mensukseskan program-program pembangunannya.


Melihat uang pecahan Rp. 50.000 bergambar Soeharto seakan aku melihat sosok pemimpin yang tegas dan cerdas. Sosoknya diidolakan oleh banyak orang termasuk mungkin diriku pada saat itu. Aku tau betul wajahnya, sosoknya, cara berbicaranya yang khas (padet kejawaan), memiliki pangkat jenderal dan dari keturunan seorang petani. Cukup kiranya menginspirasi diriku yang juga berasal dari keluarga yang sederhana. Aku tumbuh besar seiring kepemimpinannya yang terus menenrus terpilih kembali menjadi presiden. Tak pernah ada pergantian foto presiden di sekolahku, sampai-sampai aku hafal betul nama mentri-metri pembantunya yang tergabung dalam kabinet Pembangunan. Pada waktu kelas 6 aku tahu betul apa itu Repelita, siapa menteri penerangan, siapa menteri agama, dan bahkan mejadi tebak-tebakan kami desela-sela istirahat sekolah.

Kami belajar dengan sistem pendidikan yang mengacu pada kurikulum CBSA. Walau pelajaran sikap tidak spesifik diajarkan namun menghormati guru dan teman sduah menjadi nilai yang saling kami tularkan satu-sama lain. Iklim kekerabatan dan saling gotong royong, saling membantu, solidaritas sesama warga sangat erat terjadi pada masa itu. Kami benar-benar takut aturan dan fungsi aturanpun berjalan semestinya. Tidak ada yang semena-mena melanggar aturan, atau aturan itu sendiri yang akan mencelakakan jika dilanggar.

Dulu tidak ada pemilihan kepala daerah atau presiden secara langsung oleh rakyat. Pemilihan kepala daerah (Gubernur/Bupati) dilakukan dengan mekanisme jabadan eselon setingkat menteri, sedangkan Presiden ditentunkan dengan mekanisme suara terbanyak di tingkat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Masayarakat tinggal menunggu keputusan MPR siapa yang akan terpilih menjadi Presiden nanti. Tidak ada biaya triliunan rupiah yang dikeluarkan pemerintah untuk memilih wakil rakyat, karena mekanisme yang dijalankan cukup keputusan ditingkat pusat saja. Partisipasi rakyat didunia politik hanya terbatas pada menentukan sikap politik memilih partai saja. Ada 3 partai politik peserta pemilu tiap 5 tahunnya dan kurang lebih selama 40 tahun tetap tidak bertambah jumlahnya. Suasana Pemilu dulu sangat meriah berbeda dengan sekarang yang lebih ke “money oriented”. Dulu saya tahu betul ribuan motor dan mobil turun kejalan sebagai bentuk dukungan simpatisan pada partai pilihannya. Jika musim kampanye tiba di kampung saya banyak stiker dan bendera partai berkibar layaknya perayaan 17an. Sekali mendapat jadwal kampanye gemuruh suara mobil dan motor simpatisan turun ke jalan membuat saya berlari ingin melihat aksi mereka. Jika hari ini jadwal PPP yang berkampanye maka jalanan akan dipenuhi atribut berwarna hijau beriringan tak putus-putus melintasi jalan-jalan protokol. Begitu juga dengan Partai PDI dan Golkar. Suasana kampanye Partai waktu dulu cukup mengesankan dibanding sekarang.

Dulu kami tidak pernah kekurangan beras, dan harganya pun sangat terjangkau. Walau tidak ada bantuan beras raskin seperti sekarang namun dulu kami tidak pernah kekurangan karena harga beras stabil dengan daya beli masyarakat yang positif. Mekanisme import beras oleh BULOG dari thailand menjawab kekurangan pasokan beras dalam negeri sehingga “suplay and demand” dapat dikendalikan pemerintah. Tidak ada pihak swasta yang semena-mena memonopoli pasar baik dalam hal pasokan beras atau komoditas lainnya karena pemerintah punya taring yang sangat kuat menjadi pengendali.

Uang jajan saya waktu (jaman SD tahun 1992) itu sehari dikasih Rp. 1000, uang sebesar itu sebanding dengan harga 4 bungkus Sarimie atau 20 buah gorengan atau 40 buah permen. Jadi mengacu pada pola jajan saya dulu seperti ini:

Pagi sebelum berangkat sekolah dikasih Bapak Rp. 1000
Menabung di sekolah                                    Rp. 500
Membeli Gorengan 2 bh                                Rp. 200
Membeli ES Limun 1x                                   Rp. 100
Membeli Permen 4 bh                                   Rp. 100
Membeli mainan (kelereng/gambaran/dll)       Rp. 100
Total uang jajan sekolah                              Rp. 1.000

 
Uang Rp. 25, tahun edar 1996 

Untuk uang jajan setelah pulang sekolah biasanya saya meminta tambahan dengan nada sedikit merengek pada orang tua.

Jaman sekolah SMP naik menjadi Rp. 1.500 sampai Rp. 2000 dengan kebutuhan dan kenaikan harga yang juga menyesuaikan.

Jaman SMA tahun 2002 uang jajan naik menjadi Rp. 5000 dipotong biaya transport Rp. 500 sekali jalan (PP Rp. 1000) jadi uang jajan utuh Rp. 4000 dengan rincian sebagai berikut:

Bubur sop 1 mangkok                                    Rp. 500
Gorengan 2 buah                                            Rp. 500
Minuman ES 2 gelas                                       Rp. 500
Mie ayam 1 mangkok                                   Rp. 1.000
Pendukung sekolah                                         Rp. 500
Lain-lain                                                       Rp. 1.000
Total                                                            Rp. 4.000

Juga biaya-biaya umum sebagai gamabaran :
Biaya foto copy / lembar                               Rp. 50
Ballpoint / bh                                               Rp. 500
Buku standar / bh                                      Rp. 1.000
SPP Sekolah SMA / Bulan                      Rp. 10.000
Ulangan harian                                         Rp. 500 – Rp. 2.000 (tergantung gurunya)
                               
Buku paket penunjang pelajaran yang dijual sekolah berkisar antara Rp. 5.000 sampai Rp. 10.000 (dicicil selama 1 semester)
Pernah mendapat beasiswa bantuan transport siswa (jauh) sebesar          Rp. 200.000
Beasiswa ikut lomba ESC (English Speaking Club) 2003 SPP sebesar    Rp. 100.000
Beasiswa ikut lomba ESC (English Speaking Club) 2004 SPP sebesar    Rp.   85.000                        

NB: semua biaya-biaya diatas mungkin akan berbeda dengan kondisi daerah masing-masing di tahun yang sama. Hitungan ini hanya mengacu pada jatah uasng saku saya selama 1 hari yang besar nominalnya akan berbeda bagi setiap orang.


Tapi alhamdulilah dengan terus terjadinya inflasi yang mengakibatkan penurunan nilai nominal uang dengan harga barang yang terus naik saya merasa cukup bersyukur mampu memenuhi kebutuhan hidup saat itu.

Mungkin kesannya saya terlalu menilai positif jaman ORBA, walau demikian saya tau betul kekurangan sistem pemerintahan ORBA ini, tapi nanti yah saya bahas terpisah, saya ingin mengucapkan terima kasih pada pemimpin saat itu atas kerja keras dan pemikirannya terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa sehingga kami tumbuh berkembang dengan baik sampai sekarang, “alhamdulillah hirobbil alamin”. Terima kasih Pak Soeharto semoga amal ibadah mu diterima disisi Allah SWT, amin.   

       
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com